Forex & Commodity News| 2022-07-06| By, DSA

Ancaman Resesi Makin Menjadi, Bursa Wallstreet Jatuh, Investor dibuat Resah


 Indeks utama Wall Street longsor pada Selasa (5/7). Investor resah tentang kemungkinan resesi karena bank sentral di seluruh dunia mengambil tindakan agresif untuk membendung lonjakan inflasi.

Hingga pukul 21.33 WIB atau 09:45 ET, Selasa (5/7), indeks Dow Jones Industrial Average merosot 604,88 poin atau 1,95% ke level 30.492,38.

Indeks S&P 500 juga turun 75,15 poin atau 1,96% menjadi 3.750,18 dan Nasdaq Composite drop 201,56 poin atau 1,81% ke level 10.926,29.

Pasar saham AS telah berada di bawah tekanan jual tanpa henti tahun ini, dengan indeks acuan S&P 500 mencatat penurunan persentase semester pertama yang paling tajam sejak 1970. Ini setelah The Federal Reserve menjauh dari kebijakan uang mudah dengan menaikkan biaya pinjaman.

Investor sekarang menunggu risalah dari pertemuan The Fed pada bulan Juni pada Rabu (6/6). Ada kemungkinan The Fed bersiap menaikkan bunga 75 basis poin lagi.

Para trader juga mengawasi data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan komentar perusahaan untuk tanda-tanda puncak inflasi dan pendinginan pertumbuhan ekonomi AS.

"Kekhawatiran resesi mendominasi pasar," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA seperti dikutip Reuters.

Data menunjukkan pesanan baru untuk barang-barang manufaktur AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Mei 2022. Data ini menunjukkan permintaan untuk produk tetap kuat bahkan ketika The Fed berusaha mendinginkan ekonomi.

Secara terpisah, pertumbuhan bisnis di seluruh zona euro melambat lebih lanjut pada bulan Juni dan harga gas alam Eropa melonjak lagi, menyalakan kembali kekhawatiran resesi di blok tersebut.

 Indeks utama Wall Street longsor pada Selasa (5/7). Investor resah tentang kemungkinan resesi karena bank sentral di seluruh dunia mengambil tindakan agresif untuk membendung lonjakan inflasi.

Hingga pukul 21.33 WIB atau 09:45 ET, Selasa (5/7), indeks Dow Jones Industrial Average merosot 604,88 poin atau 1,95% ke level 30.492,38.

Indeks S&P 500 juga turun 75,15 poin atau 1,96% menjadi 3.750,18 dan Nasdaq Composite drop 201,56 poin atau 1,81% ke level 10.926,29.

Pasar saham AS telah berada di bawah tekanan jual tanpa henti tahun ini, dengan indeks acuan S&P 500 mencatat penurunan persentase semester pertama yang paling tajam sejak 1970. Ini setelah The Federal Reserve menjauh dari kebijakan uang mudah dengan menaikkan biaya pinjaman.

Investor sekarang menunggu risalah dari pertemuan The Fed pada bulan Juni pada Rabu (6/6). Ada kemungkinan The Fed bersiap menaikkan bunga 75 basis poin lagi.

Para trader juga mengawasi data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan komentar perusahaan untuk tanda-tanda puncak inflasi dan pendinginan pertumbuhan ekonomi AS.

"Kekhawatiran resesi mendominasi pasar," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA seperti dikutip Reuters.

Data menunjukkan pesanan baru untuk barang-barang manufaktur AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Mei 2022. Data ini menunjukkan permintaan untuk produk tetap kuat bahkan ketika The Fed berusaha mendinginkan ekonomi.

Secara terpisah, pertumbuhan bisnis di seluruh zona euro melambat lebih lanjut pada bulan Juni dan harga gas alam Eropa melonjak lagi, menyalakan kembali kekhawatiran resesi di blok tersebut. (DSA)